Monday, February 3, 2020

Ballet

kemarin habis malam mingguan sama Dhenoky nonton pertunjukan balet di Gedung Kesenian Jakarta. awalnya justru Mbayul yang ngajakin, eh dia malah pergi shopping ke ThamCit, ckck. Mbayul dapat info pertunjukan ini dari story Prita Gozie, mbak cantik konsultan keuangan (?) di Kompas TV.
tanggal 1 februari 2020, hujan dari jam 1 pagi, gw bahkan  sampai kebangun saking derasnya. pagi itu pun cuacanya, hujan-reda-hujan-reda sampai jam makan siang. gw beruntung sampai kosan tepat sebelum hujan lagi. chat gw ke Dhenoky belum dibalas, sepertinya dia belum bangun ckck. jam 4.30 akhirnya kita fix berangkat. setelah cuci muka dan catokan kilat gw berangkat, sampai di Gedung Kesenian Jakarta pun langsung disambut antrian mengular. padagal gw kira gw kepagian, saat itu jam 5.30 dan Dhenoky sampai 15 menit setelahnya. 

satu jam menunggu, Dhenoky menceritakan betapa sedihnya drama Angel's Last Mission yang menceritakan betapa nelangsanya kehidupan si pemeran utama yang dulunya seorang balerina. jam 6.30 antrian mulai berjalan, ternyata antriannya lebih panjang dari perkiraan kita. jam 7 antriannya berhenti karena 300 kursi reguler sudah terisi, padahal di depan kita tinggal belasan orang, huhu. kita diminta menunggu tamu undangan hingga jam 7.15. masih ada sekitar 50-70 kursi tersisa, kalau tak kebagian pun kita masih bisa menyaksikan pertunjukan melalui layar LCD yang disediakan panitia di luar teater.

jam 7.15 panitia menyiapkan layar, antrian pun mulai kacau. ada bapak-bapak berperawakan tinggi besar muka sangar memakai kemeja kotak-kotak biru dan mbak-mbak berjilbab pink nyerobot antrian di depan. oh tentu gw tidak terima. si bapak ini pun sok dekat dengan rombongan di depan gw dengan bilang dia serombongan, untungnya rombongan di depan langsung klarifikasi "enak aja, kita sudah berlima ya, bapak jangan nyela". gw suruh dia keluar dari antrian, eh si bapak budiman ini bisa ngejawab "sama kok, saya juga sudah antri 2 jam". sama? SAMA? dude, if you've been queuing for 2 god damn hours, you won't be here. i almost losing my shit. gw aja baru ngantri 1,5 jam.

tak lama setelah itu, panitia mulai membuka antrian. gw gak mau tau, gw pepet aja antrian depan gw, gak akan gw kasih jalan. begitu ngeliat si mbak jilbab pink, "mbak keluar mbak, jangan nyela" si mbak budiman ternyata bisa ngejawab juga "gak bisa keluar mbak" dengan suara kecil memelas karna tergencet antrian, langsung gw gas "MAKANYA JANGAN NYELA, jangan kasih jalan Dhen" ahh sungguh mengecewakan. some people are just uncultured. kami pun akhirnya bisa masuk, beruntung kami masih kebagian kursi di balkon dan masih banyak yang kosong, jadi kita bisa memilih yang pas di tengah. we got VIP seat! sure, we deserve it.
gw kembali kesal setelah melihat si bapak dan si mbak budiman penyerobot antrian, gara-gara mereka ada 2 orang yang gagal nonton di dalam teater, sungguh tidak berperasaan. untungnya mas nyentrik berambut panjang yang antri di belakang kita berhasil masuk, kalau dia gak masuk gw beneran murka sih, bakal gw samperin begitu pertunjukan selesai. i was thinking on taking their pic and shame them online.

olright, cukup dramanya, mari kita lihat pertunjukannya. seperti biasa, kita tidak diperolehkan merekam maupun mengambil foto selama pertunjukan berlangsung, sehingga gw harus search foto-foto selama pertunjukan. tenang, mereka juga mengundang pers untuk meliput kok, jadi foto-fotonya juga bagus, hehehe.

"Unboxing Ballet": A vibrant evening of Dance!

In the spirit of regeneration, NYD will be joining forces with the Namarina school to present “The Future”, a neo-classical piece depicting the growing seeds of flowers, that is choreographed by Sussi Anddri especially for this occasion.

As for mutual enrichment, NYD will also present one of their favourites and groundbreaking repertoire, revisiting JALIN, the choreography by Sussi Anddri in collaboration with an experimental folk rock group @gadoensambal based in London. The collaboration first took place and was assembled especially to commemorate the 60th anniversary of Namarina Dance Academy as Indonesia’s oldest dance institution.


The term JALIN means to connect or ‘interwoven' in the local context, highly inspired by several compositions: Impromptu, Cosmic Vibrations, and most notably the composition called Tenun (composed by Gado-Gado EnSambal @gadoensambal) which depicts a process of Tenun making, the Indonesian textile traditions that spread and manifest across the Archipelago from the Bataks (Ulos) to Tenganan Village (Geringsing). Music, Dance, and Visual Arts are inseparable in many traditions around the world; so therefore, exploring its interrelations would enrich and broaden each discipline to develop.

This collaboration not only coincides with the mission and vision of NYD, but it also aims to bridge Ballet tradition with Indonesia’s rich and diverse cultural heritage, contributing a fresh breath and unique interpretation of Ballet as a western art form weaving with the locality and context of the rich and diverse traditional roots of the Archipelago.

 
 
 


Share:

0 comments:

Post a Comment